Setelah hampir
lima bulan sudah meninggalkan Jakarta Indonesia tercinta (ciyeee-tumben)
bersosialisasi dengan bahasa yang cukup membuat gila mendadak, tata
budaya dan sifat orang di Turkey saya pun mulai mengerti sedikit
demi sedikit meninggalkan culture shock or home sick (walaupun masih suka
meraung raung ingin pulang hehe).
Ceritanya kenapa
bisa sampai nyasar nyangsang ke Negara ini? tentunya bukan karena menang
undian ya. Berawalnya dari pertemuan singkat yang akhirnya berakhir di
pelaminan (Alhamdulillah YRA).
Mengikuti kemana
nasib suami pindah kerja memang ada sedih sedih enaknya. Sedihnya ya udah pasti
berjauhan dari keluarga. Enaknya ada pengalaman baru tersendiri dari yang unik
sampai mencekam (bahasanya mulai horror)
Cerita tentang Negara
ini memang penuh dengan keunikan dan banyak cerita bersejarahnya. Kalau tentang
bangunannya banyak bangunan-bangunan tua bersejarah seperti salah satunya Ephesus.
penampakannya kira-kira seperti ini :
| maaf ya saya numpang selfie dari belakang |
Kalau soal
penduduk disini, yang pasti baik (ehh bukan karna suami orang sini lohh yaaa *liriksuami *takutdilempar) tapi memang
setidaknya mereka care dan tata karmanya gak beda jauh dengan culture di
Indonesia bahkan kalau saya bilang agak berlebihan. Seperti contoh, sewaktu
saya dikenalkan mama mertua ke temannya, saya biasa mencium tangan karna etikanya
dia lebih tua dari saya dan memang sudah sepatutnya seperti itu kan. Tapi yang
buat saya kaget, ibu ini malah mencium balik tangan saya (lah…ketauan gak
pernah ada yg cium tangan saya) saya otomatis jadi canggung dan melirik kaget
ke suami. Setelah dijelaskan, itu karna mereka menyukai kita dan
menunjukan respect balik ke kita, barulah saya ber oh-oh sendiri mengangguk
bingung.
Salah satu yang
bikin saya amaze disini kalau ada tamu yang datang dari jauh dan lama tak bertemu mereka pasti kudu
bakalan ngundang ke rumah mereka (ah itu sih biasa ya) eits tunggu dulu, kalau yang ngundang perwakilan aja sih memang biasa, tapi ini bukan hanya satu dua tiga empat orang kerabat
yang mengundang bisa hampir seluruh kerabat dari yang deket sampai yang jauh ikutan ngundang. Kalau yang
kali ini bukan hanya memnunjukan respect aja, melainkan juga gengsi (oh jd
mainan gengsi juga yah?!) iya banget. Terutama, para ipar-ipar sebangsa dan
setanah air. kebetulan suami ini anak terakhir dari 4 bersaudara(nasib...) jadi kebayang aja riweh nya kek gimana. Waktu pertama kali datang kesini, biasanya kakak pertama yang
wajib kudu ngundang ke rumah mereka. Acaranya sekedar makan malam, nge- teh
cantik atau ngopi cantik dan rumpi pastinya. Kemudian barulah kakak-kakak selanjutnya yang gantian
mengundang dan berikutnya belum selesai
sampai para kakak aja, sekarang giliran tante tante om om se RT RW alias adik atau kakak-kakak
dari orang tua suami dan biasanya di tutup oleh anak dari tante tante dan om om
tersebut (baca : para sepupu). Beruntung kalau gak semua om om tante tante atau
sepupu ngundang. Kalau semua ngundang ya siap koyo aja. Kepala pening rahang
sakit akibat senyum kelebihan batas normal.
Jadi kira-kira
seperti itu deh cerita singkat yang saya rasakan selama hidup di Turkey bersama
keluarga suami. Intinya buat WN Indonesia tercinta khususnya para wanita (secara
saya wanita yaa #masasih #ehh) yang entah itu berkelana di Negara orang karena
ikut suami atau sebagai pelajar atau bahkan bekerja tetap semangat dan keep socialize
with people there! Ikuti episode selanjutnya yaa. kisskiss