Rabu, 23 Juli 2014

Pengalaman Tinggal Di Turkey


Setelah hampir lima bulan sudah meninggalkan Jakarta Indonesia tercinta (ciyeee-tumben) bersosialisasi dengan bahasa yang cukup membuat gila mendadak, tata budaya dan sifat orang di Turkey saya pun mulai mengerti sedikit demi sedikit meninggalkan culture shock or home sick (walaupun masih suka meraung raung ingin pulang hehe).

Ceritanya kenapa bisa sampai nyasar nyangsang ke Negara ini? tentunya bukan karena menang undian ya. Berawalnya dari pertemuan singkat yang akhirnya berakhir di pelaminan (Alhamdulillah YRA).

Mengikuti kemana nasib suami pindah kerja memang  ada sedih sedih enaknya. Sedihnya ya udah pasti berjauhan dari keluarga. Enaknya ada pengalaman baru tersendiri dari yang unik sampai mencekam (bahasanya mulai horror)

Cerita tentang Negara ini memang penuh dengan keunikan dan banyak cerita bersejarahnya. Kalau tentang bangunannya banyak bangunan-bangunan tua bersejarah seperti salah satunya Ephesus. penampakannya kira-kira seperti ini :

 

maaf ya saya numpang selfie dari belakang

 

Kalau soal penduduk disini, yang pasti baik (ehh bukan karna suami orang sini  lohh yaaa *liriksuami *takutdilempar) tapi memang setidaknya mereka care dan tata karmanya gak beda jauh dengan culture di Indonesia bahkan kalau saya bilang agak berlebihan. Seperti contoh, sewaktu saya dikenalkan mama mertua ke temannya, saya biasa mencium tangan karna etikanya dia lebih tua dari saya dan memang sudah sepatutnya seperti itu kan. Tapi yang buat saya kaget, ibu ini malah mencium balik tangan saya (lah…ketauan gak pernah ada yg cium tangan saya) saya otomatis jadi canggung dan melirik kaget ke suami. Setelah dijelaskan, itu karna mereka menyukai kita dan menunjukan respect balik ke kita, barulah saya ber oh-oh sendiri mengangguk bingung.

Salah satu yang bikin saya amaze disini kalau ada tamu yang datang dari jauh dan lama tak bertemu mereka pasti kudu bakalan ngundang ke rumah mereka (ah itu sih biasa ya) eits tunggu dulu, kalau yang ngundang perwakilan aja sih memang biasa, tapi ini bukan hanya satu dua tiga empat orang kerabat yang mengundang bisa hampir seluruh kerabat dari yang deket sampai yang jauh ikutan ngundang. Kalau yang kali ini bukan hanya memnunjukan respect aja, melainkan juga gengsi (oh jd mainan gengsi juga yah?!) iya banget. Terutama, para ipar-ipar sebangsa dan setanah air. kebetulan suami ini anak terakhir  dari 4 bersaudara(nasib...) jadi kebayang aja riweh nya kek gimana. Waktu pertama kali datang kesini, biasanya kakak pertama yang wajib kudu ngundang ke rumah mereka. Acaranya sekedar makan malam, nge- teh cantik atau ngopi cantik dan rumpi pastinya. Kemudian barulah kakak-kakak selanjutnya yang gantian mengundang  dan berikutnya belum selesai sampai para kakak aja, sekarang giliran tante tante om om se RT RW alias adik atau kakak-kakak dari orang tua suami dan biasanya di tutup oleh anak dari tante tante dan om om tersebut (baca : para sepupu). Beruntung kalau gak semua om om tante tante atau sepupu ngundang. Kalau semua ngundang ya siap koyo aja. Kepala pening rahang sakit akibat senyum kelebihan batas normal.
 
Jadi kira-kira seperti itu deh cerita singkat yang saya rasakan selama hidup di Turkey bersama keluarga suami. Intinya buat WN Indonesia tercinta khususnya para wanita (secara saya wanita yaa #masasih #ehh) yang entah itu berkelana di Negara orang karena ikut suami atau sebagai pelajar atau bahkan bekerja tetap semangat dan keep socialize with people there! Ikuti episode selanjutnya yaa. kisskiss